Book

Judul Membajak Sejarah: Arung Palakka, Kekuasaan, Dan Aliansi Pasca-Bongaya
Sinopsis Buku ini berusaha menggali kembali bagaimana cara sejarah Arung Palakka dibentuk, diwariskan, dan dipahami. Karena itu istilah ’’membajak sejarah’’ dalam judul buku ini bukan dimaksudkan sebagai tuduhan moral terhadap Arung Palakka, melainkan sebagai metafora untuk mempertanyakan bagaimana kekuasaan, kepentingan politik, aliansi, dan produksi narasi sejarah dapat membentuk cara generasi berikutnya memahami masa lalu. Mengajak pembaca mempertanyakan bagaimana sejarah dibentuk, siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan narasi, dan mengapa seorang tokoh dapat dikenang secara berbeda dalam tradisi sejarah yang sama? Arung Palakka adalah tokoh sejarah yang hingga kini tidak pernah selesai dibicarakan. Ia terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bone dan Soppeng. Perjanjian Bongaya 1667 menjadi titik penting dalam kajian ini. Bongaya tidak hanya dilihat sebagai akhir perang Gowa-Bone-VOC, tetapi sebagai titik balik yang mengubah konfigurasi kekuasaan di Sulawesi Selatan dan kawasan Nusantara Timur. Pasca-Bongaya, Arung Palakka tidak hanya tampil sebagai pemenang, tetapi juga aktor yang membangun jaringan kekuasaan melalui aliansi, hubungan dengan VOC, kekuatan militer, kontrol terhadap pusat kekuasaan strategis, serta hubungan diplomasi dengan berbagai kerajaan di kawasan. Karena itu, buku ini mengajukan pertanyaan lebih mendasar ’’Apakah kekuasaan Arung Palakka berhenti pada kemenangan Bone atas Gowa, atau tumbuh dan berkembang menjadi sebuah jaringan hegemoni yang membentuk tatanan politik baru di kawsan Nusantara Timur?
Genre Pendidikan
Penulis Prof. Dr. Anzar Abdullah, S.Pd., M.Pd
Editor Prof. Dr. H. Endang Komara, M.Si.
ISBN Proses
Jumlah Halaman 146
Tahun Terbit 2026
Penerbit CV. Afasa Pustaka
Edisi 1
Cetakan Ke 1